Monday, November 12, 2007

Desain: Memahami karakter diri sendiri

Ketika kita 'belajar' menjadi seorang arsitek di kampus, kita masuk dengan lembaran kosong, empty page. Disana kita mulai diperkenalkan kepada segala 'ilmu' kerarsitekturan, overall, menurut saya, pendidikan sebenarnya diarahkan kepada 'bersikap kearsitekturan', atau 'berpikir seperti arsitek'. Hal ini sangatlah penting untuk memberi bekal kepada kita dimasa depan.

Dalam hal desain hal ini juga terjadi, kita seakan-akan diberi tahu mana desain yang baik dan mana desain yang 'buruk', secara tidaklangsung, society di lingkungan universitas 'mengusung' apa yang menurut mereka desain yang baik. Kita diarahkan sesuai dengan apa yang lingkungan kita harapkan. Hampir seperti cara kita (pada umumnya) memahami 'agama kita'. Rata-rata yang saya tahu, pemahaman akan moral dan kultur, ditanamkan oleh keluarga dan lingkungan kita, sehingga terkadang kita tidak sempat bertanya kepada diri kita sendiri, pertanyaan yang paling mendasar:

Apakah yang terbaik untuk saya?
Siapakah saya?

Bila memang kebetulan apa yang kita yakini sesuai dengan apa yang likngkungan kita yakini, well, consider kita lucky. Bayangkan bila kita mempunyai orientasi yang berbeda, kita harus berani melawan arus yang sudah terbentuk dari dulu.

Bila anda Gay, bila anda menyakini agama yang berbeda dengan keluarga anda, bila anda berbeda pemahaman 'politik dan moral dengan lingkungan anda, anda mungkin mengerti apa yang saya maksud kan. Tetapi ini bukanlah yang saya tuju dalam tulisan ini.

Dalam dunia desain/arsitektur, siapakah saya, justru sering terlupakan. Atau tidak berani kita explore. Karena berbeda dengan kebutuhan diri sendiri (sexual orientation, religion), menjadi seorang arsitek, pada akhirnya adalah, menjadi seorang konsultan untuk orang lain yang ingin memiliki bangunan/shelter.

Artinya, apa yang kita yakini, bila berlawanan dengan keyakinan masyarakat yang 'mengharapkan' jasa/fungsi kita, kita akan dihukum dengan tegas. Tidak ada proyek, atau Dinyatakan sebagai arsitek dengan karya yang buruk.

Namun, bila ditelaah lebih lanjut, setiap arsitek yang sukses, justru salah satunya disebabkan oleh kejujuran diri sendiri, apa yang ia yakini dan terus berjuang.

Yang terpenting adalah, luangkan waktu untuk memahami siapa kita, apa yang kita perjuangkan, dan berusaha jujur kepada diri kita sendiri.

No comments: