Sunday, October 28, 2007

Kenapa Saya Gak Dapet Proyeknya?

well, dari 'pengalaman' memang pada akhirnya, mungkin jodoh2an...kadang kenapa kita gak dapet proyek, dan kenapa kita bisa dapet proyek susah juga dimengerti. Hal ini bisa kita gak pikirkan bila target proyek kita, hanya 1-2 setahun, alias, kita memang menunggu nasib. Pernah saya joke sama teman, saya bilang seperti ini "kalo mau cari salesman yang jago, cari lah orang yang banyak pacarnya. Kenapa? well, kalo dia gak bisa 'jual' dirinya...bagaimana bisa dia menjual 'barang' kita?"

Kalo saya analogikan, memang, wanita cantik pasti banyak yang naksir. Tetapi kenyataan 'di lapangan' banyak wanita cantik hidup kesepian, sementara ada wanita yang 'biasa saja' justru punya banyak 'pacar'. Ada hal2 tertentu diluar faktor 'alamiah' yang dapat membantu kita bisa berkompetisi atau bahkan disukai dibandingkan yang 'cantik2'..

Mencari calon klien satu hal, dan untuk pemula, memang sangat sulit. Tetapi ada hal yang lebih penting lagi, yaitu: Bila sudah ada prospek, calon klien mau ketemu...namun kok pada akhirnya kita gak bisa dapet proyeknya?

Please liat list dibawah ini, dan pastikan 'selalu baca' ini terlebih dahulu sebelum bertemu dengan calon klien anda - faktor kita 'gagal' mendapat proyek.

1. Fee terlalu tinggi atay terlalu rendah. Fee terlalu tinggi jelas membuat anda 'tidak' kompetitif, dan anehnya, fee terlalu rendah membuat anda menjadi terkesan, tidak professional.

2. Bicara terlalu banyak, cerita terlalu banyak, sehingga memberi kesan 'anda berbohong'. Pada awal karir, saya sering bercerita tentang proyek yang saya pernah kerjakan atau terlibat didalamnya, dan tentu saya harus jujur, karena pasti cerita saya bisa di cek pada suatu saat nanti; namun tidak jarang dalam saya bercerita, sang calon klien melihatnya seperti "terlalu menjual" atau bila ia merasa 'surprise' biasanya mereka enggan memotong kita dan pada akhirnya bisa menarik kesimpulan bahwa kita membual. Dan mereka, tidak akan punya pikiran lebih untuk mencek cerita tersebut. Sekalinya mereka curiga akan kita, that's it. Good Bye.

3. Berpenampilan 'buruk'. Saya tidak menyarankan untuk over dress..memakai jas atau dasi kupu2...namun memang cara berpakaian, termasuk memilih sepatu, kacamata, tas, ikat pinggang etc, adalah salah satu cara klien kita menilai 'siapa kita'. Sepertinya adalah: bila arsitek ini tidak bisa memilih baju untuk dirinya sendiri, bagaimana ia bisa memilih desain yang baik untuk saya? Tips: Bila bingung, pakailah baju kemeja berwarna putih. "boring" is better than "over dress"

4. Menggerutu/Bercerita jelek tentang orang lain. Saya termasuk orang yang suka bercerita, dan bila saya sudah bercerita, saya akan cerita apa saja. Namun memang kadang terselip satu-dua hal 'unnecessary' info yang dapat menggangu reputasi kita. Bila anda kurang suka terhadap satu-dua orang terutama didalam bisnis anda, misalnya kompetitor atau supplier/kontraktor yang tidak anda suka, hindari bercerita jelek tentang mereka, nantinya justru kita yang dianggap 'tidak fair' atau 'suka menjelek2an' orang lain. Tips: Bila anda dihadapkan oleh klien untuk menyebut nama kompetitor anda, pujilah kompetitor anda, bukan sebaliknya.

5. Terlalu Antusias. Kadang ada proyek dimana kita benar2 ingin mendapatkannya. Rasa antusias yang berlebihan justru sangat menggangu klien (hal ini berbeda misalnya, bila sang klien juga antusias) atau cara lainnya, ikuti mood klien, bila sang klien tenang, anda harus tenang juga, bila antusias, anda pun harus ikut antusias. Tapi hati2 jangan terlalu berlebihan.

6. Datang LEBIH CEPAT. "on time" = "late". Saya bukanlah tipe yang selalu datang tepat waktu, namun pada saat deal, saya selalu usahakan datang lebih cepat dari pada waktunya. Ada 2 keuntungan, satu, kita terkesan serius dengan proyeknya, yang kedua, kita bisa lebih mempersiapkan diri dengan baik. Namun, namanya di Jakarta, yang ada macet tiba2 selalu terjadi, Bila kita PASTI akan telat, harap beri tahu, Jauh Sebelum Waktunya, alias, pada saat kita sadar kita akan telat, hubungi calon klien, dan berikan prakira waktu yang realistis. Bila sang klien memaksa anda datang pada waktu yang menurut anda tidak mungkin, jawaban terbaik adalah "akan saya usahakan". Jangan terlalu optimis atau memberikan harapan yang tidak mungkin kita tepati. Namun jangan pula 'kaku' dan 'strick'.

7. Memilih tempat meeting yang salah. Usahakan yang memilih tempat adalah sang klien, dan jangan menggerutu bila tempat meeting tersebut menyulitkan kita (misalnya jauh atau macet), bila hal ini terjadi, berilah alasan yang wajar, seperti "saya sebelumnya ada meeting di ciputat, saya takut telat bila sesudahnya kita meeting di Kuningan, namun saya akan usahakan on time", atau bisa juga memberikan solusi "mungkin waktu meetingnya bisa lebih 'sore', atau ada tempat lain yang lebih dekat dengan ciputat? Senayan misalnya?". Pada akhirnya, sang klien lah yang memutuskan dimana kita bertemu.

8.Bingung untuk berkata/berkomunikasi. Tidak semua arsitek memiliki bakat menjual, karena memang tugas kita mendesain. Bila hal ini terjadi, gunakan cara 'non-verbal' untuk bercerita tentang konsep misalnya, buatlah tulisan untuk menerangkannya. it's okay, dan be-honest. Kadang saya gugup (karena satu dan lain hal) untuk menerangkan konsep saya, atau hanya untuk memperkenalkan diri; bila hal itu terjadi, terus teranglah kepada sang klien; "maaf pak saya agak gugup/nervous; tapi akan saya coba terangkan..bla..bla...bla..."Percaya lah, sesudah 'kita mengakui' bahwa kita gugup, justru kita malah lebih percaya diri....


Mungkin itu yang ada dikepala saya saat ini, tapi saya pada akhirnya berkesimpulan, kita harus berusaha sekuat mungkin, tapi pada akhirnya, semua ada jodohnya. Bila kita gagal mendapatkan proyek ini, bukan berarti kita jelek, namun memang proyek ini, bukan untuk kita. Move on to another project/prospect.

Thursday, October 25, 2007