Thursday, November 29, 2007

Masterpiece?

Semua yang berkarya ingin memiliki hasil yang luar biasa. A Masterpiece.

Tentu dapat menghasilkan sebuah masterpiece adalah sebuah prestasi, namun dilain pihak, mengharapkan masterpiece ini terjadi merupakan masalah tersendiri bagi kita. Mengapa?

Sebuah masterpiece itu 'tercipta' bukan di'ciptakan'. Masterpiece terjadi begitu saja, tidak bisa di kreasikan.

Yang menjadi masalah bila kita takut untuk berbuat salah, karya kita haruslah merupakan karya yang hebat dari kita. Pada satu sisi pemikiran ini tentunya sangat bagus untuk motivasi kita, namun, rasa takut atau over-react dalam proses mendesain ini justru akan menghasilkan sebuah karya yang tidak kita banggakan.

Madonna, memulai hits nya dengan lagu "like a virgin", not a masterpiece at all. Hits, memang. Namun bukan karya yang hebat, seperti misalnya "like a prayer" yang muncul bertahun-tahun kemudian.

Di lain seniman, Bjork misalnya, memulai karirnya dengan album yang secara kritis dianggap bagus, namun yang membuatnya menjadi ''terkenal' justru lagu "oh so quiet" yang perlu dicatat bukan typical style Bjork (walau roots musical jazzy sebenarnya ada di dia).

Pearl Jam, mempunyai masalah yang besar, bukan karena karya mereka bagus, namun album pertama mereka adalah sebuah, masterpiece. Saya masih ingat reaksi mereka pada saat menerima Grammy, panik, takut tidak bisa mengulangnya kembali. Hard to say, memang begitu.

Seal, album ke-2 nya benar-benar bagus. Sehingga album sesudahnya tampak tidak bisa sejajar dengan album masterpiecenya tersebut.

Persamaan dari para seniman kelas dunia tersebut adalah, sebuah masterpiece tidak bisa diprediksi, direncanakan, sebuah masterpiece terjadi begitu saja. Jangan sampai keinginan untuk menghasilkannya justru membuat kita takut.

Tuesday, November 27, 2007

Cinderella Problem...

Ketika istri saya bercerita tentang Cinderella dengan anak saya, terdengar oleh saya, ada yang 'tidak beres' dengan cerita ini. So here it goes:

Cinderella adalah seorang gadis yang punya potensi, kita mengerti bahwa untuk tampil ke publik Cinderella haruslah berpenampilah baik, ok dia dalam kondisi yang terbatas, maka dia memerlukan 'keajaiban' agar dapat diterima disebuah pesta publik dengan target utamanya adalah seorang pangeran. Kini berbekal 'image enhancing' Cinderella akhirnya dapat bertemu dengan pangeran. Mereka berdansa, dan pangeran pun telah jatuh hati. Namun, memang dasarnya 'image tempelan' Cinderella yang berupa gaun cantik dan kereta kudanya tidak bisa bertahan lama, dan pada waktunya, Cinderella pun harus menjauh dari sang Pangeran. Cinderella pergi..dan Pangeran bingung mencarinya...

Disini letak problemnya. Cinderella tidak cukup mengerti, bahwa sang Pangeran telah jatuh hati dengan dirinya, siapapun dia. Harusnya, Cinderella tidak perlu takut bahwa Pangeran akan menjauh karena terbukti bahwa ia bukan putri orang berada. Kenapa? karena, siapapun Cinderella itu, jelas sang Pangeran lebih 'kaya dan terhormat' dan bila memang sang Pangeran mementingkan gelar bangsawan, dia tidak akan mengadakan pesta publik, dia sendiri mempunyai kemampuan untuk mencari Putri lain dalam kalangannya sendiri.

Lalu hubungan dengan kita? Bila kita berhadapan dengan calon klien yang luar biasa posisinya, baik secara proyek, dana maupun terhormat dimata masyarakat, just be yourself. Pada satu sisi kita memang perlu berpenampilan baik, namun jangan sampai kita berpikir bahwa itu yang membuat kita diterima oleh sang klien. Yang mereka perlukan adalah talenta kita. Dan bila mereka sudah 'jatuh cinta' kepada apa yang kita tawarkan, mereka akan tetap membutuhkna kita. Dan seperti sang Pangeran, bila sang klien memang menginginkan arsitek top atau kelas dunia, sudah pasti sang klien pun mempunyai kemampuan untuk mendapatkannya.

Bila kita merasa seperti Cinderella, be your self, yakinkan kita cukup cantik untuk berhadapan dengan Pangeran apapun...

Monday, November 26, 2007

Be there...

Eighty percent of success is showing up. Woody Allen

Well bila showing up atau 'nongol' untuk hal yang penting, dan ada kemungkinan kita mendapat proyek adalah satu hal...showing up ketika kita dalam masalah besar di proyek, adalah bentuk tanggung jawab. Kita mungkin akan kena marah, penghinaan, omelan dan lainnya, namun kita masih tetap punya satu hal yang hakiki, integritas.

Thursday, November 22, 2007

Bila Terjadi Kesalahan, tell them.

Yang namannya proyek, dimana saja, siapa saja pasti berbuat kesalahan. period.

Baik itu dari secara konsep, secara kualitas, secara waktu, pasti ada kesalahan. Dan somehow ada kebiasaan untuk tampil sempurna dihadapan klien, juga ada pressure bila ketahuan itu salah kita, kita akan dipecat, atau nama kita buruk.

Now, listen to this.

Klien kita itu rata2 adalah orang bisnis juga, atau orang bekerja, dimana mereka pun juga pernah melakukan kesalahan. Dan mereka tahu, melakukan kesalahan tidaklah sama dengan kebodohan. Orang pinter merasa bodoh, orang bodoh merasa pinter. Itu hampir dapat dipastikan.

Sekarang, yang dapat kita lakukan bila menghadapi hal seperti, akui, dan akui sebelum ketahuan. Datang dan bilang "ini kesalahan yang kami buat, dan inilah solusinya"

Gak ada klien yang senang mendengarkannya, tapi yakin lah, mereka akan semakin menghargai kita.

dan itu awal membangun kepercayaan. Kepercayaan membawa rejeki.

Friday, November 16, 2007

Desain, milik siapa?

Ide sudah ada. Sketsa sudah beres. Gambar denah/tampak sudah beres. Kita tinggal membuat presentasi. Kita liat, amati, lalu ada pertanyaan yang muncul, apakah ini desain yang bagus? Apakah klien akan menerima ide kita ini?
Pertama-tama, pastikan apa yang kita pikirkan. Bila pertanyaan itu muncul (“ini desain sudah bagus gak ya”) maka jawaban yang bisa kita pastikan, pasti ada yang tidak beres. Kita secara tidak sadar terus menilai apa yang kita lihat.
Hal yang kedua adalah, pastikan posisi kita dalam mendesainnya. Apakah desain ini untuk memberikan apa yang kita anggap baik, ataukah kita membuatnya untuk kepentingan klien?
Seniman menjadikan 2 sisi ini berbeda, mereka dapat menghasilkan karya yang mereka anggap jati dirinya, juga di sisi lain, mereka menerima ‘commission’, yaitu pekerjaan yang memang diminta oleh sang klien. Lukisan ‘potret’ adalah salah satu contoh pekerjaan ini.
Dari situ kita bisa mempunyai set point of view yang bisa kita gunakan untuk menilai desain kita sendiri.
Saya selalu mengatakan kepada sang klien; Setiap proyek yang sukses, harus minimal membuat salah satu diantara kita senang, saya sebagai desainer, atau anda sebagai klien. Proyek yang buruk adalah, sebuah proyek yang tidak diakui oleh kedua belah pihak sabagai ‘karya’nya.

Desain Orisinal?

Kita dilatih agar menjadi ‘diri sendiri’ atau kalau bisa, se-oringinal mungkin. Ada yang memang karakter sang arsitek sudah ‘original’ dari ‘sono’nya, namun ada juga yang berusaha untuk menemukan jati diri/ desainnya melalui berbagai proses. Namun pertanyaannya adalah; bila akhirnya pada satu saat nanti kita sudah menemukannya, bagaimana bila yang terjadi adalah; faham desain yang kita usung tersebut, tidak diterima oleh masyarakat?

Ada yang mengatakan, profesi arsitek berbeda dengan profesi seniman. Karena seniman pada dasaranya, focus kepada ‘ekspresi’ dirimereka, sementara kita adalah ‘applied art’ dimana kita adalah bagian dari solusi sebuah proyek, jadi self expression di arsitektur sangat sulit terjadi.

Kenyataan yang ada sebenarnya justru diluar perkiraan kita. Seniman memang menghasilkan karya yang ‘murni’ dari hasil pemikirannya, namun, seniman yang sukses, adalah seorang seniman yang menghasilkan karya yang dapat dinikmati orang lain.

Akhirnya pada prinsipnya, seniman maupun arsitek, masing-masing dari profesi ini membutuhkan ‘audience’. Maka, kita pun jangan sampai terjebak dalam total self expression yang tidak dapat dimengerti atau dinikmati khalayak.

Lalu apakah kita harus menghindari desain orisinal kita?

Well, ada dua cara. Satu, kita me-modify desain tersebut, menjadi kompisisi yang lebih dapat diterima (tidak extrim), atau, kita mencari ‘publik’ kita sendiri.

Empty Page...

Ada saatnya kita benar-benar mentok. Tidak tahu musti gimana. Seakan-akan melihat kertas kosong, atau monitor computer, tidak ada yang bisa membuat kita ‘bergerak’ untuk mendesain. Akibatnya, kita mencari jawaban untuk menciptakan mood, minum kopi, cari makanan kecil, cari musik2 yang asik, dan mungkin ke arah yang lebih ‘tidak produktif’ lagi, membuang uang untuk membeli hal-hal yang kita anggap dapat membuat diri kita ‘semangat’. Memang salah satu syarat agar kita bisa focus bekerja adalah menciptakan suasana kerja yang baik, tetapi bila masih mentok juga maka, kita harus mencari jalan lainnya.

Salah satu jalan yang bisa dilakukan, yang sebenarnya sangat mudah adalah;

Mulailah bekerja.

Jangan berpikir apakah hasilnya akan bagus, jangan berpikir apakah yang dilakukan adalah hal yang benar. Lakukanlah, dan lakukan agar hasilnya jelek. Mengapa?

Sebuah ide bagus selalu terjadi karena kita tidak puasan kita akan kondisi saat ini. Solusi muncul karena ada problem, dan bila tidak ada problem, maka tidak ada solusi. Semakin hebat problemnya, semakin luar biasa solusinya.

Jadi, untuk menghasilkan desain yang hebat, buat lah sebuah problem. Dan salah satu problem yang bisa muncul adalah, desain yang buruk. Bila hasil awal kita ‘buruk’ atau ‘tidak seperti yang diharapkan’ kita bisa mempelajari dan memperbaiki desain tersebut, untuk menjadi lebih baik. Proses tersebut adalah proses desain.

Jadi, mulailah bekerja saat ini juga. Jangan mengaharapkan hasil apa2. Setelah itu, tunggu sejenak, pelajari apa yang telah kita buat. Dan perbaiki.

Wednesday, November 14, 2007

Desain: Jangan mulai dari sketsa...

Kita selalu diarahkan untuk mendesain dengan pinsil dan kertas. Adalah hal yang super-duper-cool bila kita punya ide dari toilet paper dan napkin di restoran. That's bullshit. Sorry.

Mulailah desain dari;

Cerita. Dan buatlah sketsa, di kepala anda...tutup mata, dan mulailah membayangkan.

Coretan hanyalah sebagai media untuk merekam. Dan sketsa, cenderung manipulatif, dan terstruktur, dan habitual. Sketsa di atas kertas, selalu akan terbatas oleh: tangan kita sendiri.

Sketsa itu penting, namun jangan mulai impian anda dari sketsa.

Cerita, bicarakan dengan klien ada, "tanpa ada coretan sedikitpun" pastikan kita dengan klien mempunyai cerita yang sinkro, dan seirama. Bayangkan dikepala anda. Lalu baru cari kertas, dan mulai mencoret.

Sebuah Proyek Rumah Ibarat Operasi Jantung...

Mungkin dirasa berbeda dengan proyek komersil, proyekrumah tinggakl memnpunyai sisi 'kemanusiaan' yang serius.

Sebuah rumah adalah salah satu kebutuhan primer setiap individu, kebutuhan akan shelter. Maka wajar bila kita menjumpai bahwa orang akan mengerahkan segala kemampuannya dalam membangun rumah tinggal. Kita juga tahu, bahwa biaya tersebut akan ditanggung, untuk yang menggunakan KPR, selama 15 tahun!

Disisi lain, kita 'dibayar' untuk membantu mewujudkan proyek tersebut, sesuai dengan nilai proyek itu sendiri. Jadi proyek rumah mewah, tentu akan memberikan kita income yang baik, sementara proyek rumah itnggal kecil dan sederhana, mengakibatkan, well, fee yang juga 'sederhana'. Pertanyaannya, bagaiman sikap kita menghadapi proyek kecil ini?

Saya telah mendesain rumah tinggal dari budget 150 juta, sampai 15 milyar rupiah, dan inilah kesimpulan saya; semua sama pentingnya, semua sama 'beratnya', semua sama 'problemnya'.

Intinya, semua sama pentingnya dimata sang klien. Siapapun klien kita.

Saya ibaratkan proyek rumah tinggal adalah operasi jantung, mulai dari presiden, konglomerat, artis sampai tukang sapu, adalah nyawa manusia. Perlakukan dengan sama, siapapun klien anda, perlakukan dengan respect.

Monday, November 12, 2007

Style : Cerminan Sikap...

Modern
Klasik
Etnik
Tropikal

Mungkin secara umum bisa dibagi seperti yang disebut diatas, style untuk rumah tinggal.
Seringkali kita terjebak dalam apa yang kita lihat di majalah, atau karya orang lain yang menjadi inspirasi kita. Untuk mempelajari sebuah style, hal tersebut tidaklah menjadi masalah. Namun bila kita ingin memberikan yang terbaik, sebuah style adalah sebuah cerminan sikap itu sendiri.

Modern:
Kita harus bersikap terbuka, berani tampil beda, berani mendapatkan sesuatu yang baru, untuk minimalist, kita harus bersikap simple, namun elegan, untuk yang high-tech, kita harus bersikap haus akan sesuatu yang baru, yang 'smart'..

Klasik:
Kita harus memahami sikap elegan, tertata dengan rapih, sopan, dan mengerti akan hirarki, prosesional...

Etnik:
Kita harus menghargai kultur, hal yang tersirat dan tersurat, memahami heritage, intinya sikap kita harus seperti apa yang diajarkan atau dipahami oleh etnik itu sendiri..

Tropikal:
Memahami konsep kesederhanaan, utilitarian, kenyamanan dan sosial, easy going etc...

Sikap dalam mendesain akan tercermin dalam desain itu sendiri, yang nantinya akan memberikan 'jiwa' dalam karya yang kita hasilkan...

Design : Tentang Style...

Sadar atau tidak, kita sudah terbiasa akan klasifikasi style, Modern, Minimalist, Classical, ArtDeco, Post Modern, Deconstruction dsb...dan juga terbiasa untuk 'membela' satu style yang kita yakini, dan 'membunuh' style lainnya.

Bila di ibaratkan musik, perdebatan style sama saja dengan mendebatkan, jazz vs. rock, bila dalam film mungkin dapat diibaratkan starwars vs. gone with the wind? (to put in extreme)...

aneh bukan?

Yang sebaiknya kita perdebatkan adalah:
Mana Jazz yang baik, dan mana Jazz yang buruk?
Mana Klasikal yang baik, dan mana Klasikal yang buruk?
Mana yang lebih baik? Radiohead atau Oasis?
Mana yang baik? Starwars atau Startrek?

Dan dalam mengkritik sebuah karya, biasakan fokus dalam "how to improve" it.

Desain: Memahami karakter diri sendiri

Ketika kita 'belajar' menjadi seorang arsitek di kampus, kita masuk dengan lembaran kosong, empty page. Disana kita mulai diperkenalkan kepada segala 'ilmu' kerarsitekturan, overall, menurut saya, pendidikan sebenarnya diarahkan kepada 'bersikap kearsitekturan', atau 'berpikir seperti arsitek'. Hal ini sangatlah penting untuk memberi bekal kepada kita dimasa depan.

Dalam hal desain hal ini juga terjadi, kita seakan-akan diberi tahu mana desain yang baik dan mana desain yang 'buruk', secara tidaklangsung, society di lingkungan universitas 'mengusung' apa yang menurut mereka desain yang baik. Kita diarahkan sesuai dengan apa yang lingkungan kita harapkan. Hampir seperti cara kita (pada umumnya) memahami 'agama kita'. Rata-rata yang saya tahu, pemahaman akan moral dan kultur, ditanamkan oleh keluarga dan lingkungan kita, sehingga terkadang kita tidak sempat bertanya kepada diri kita sendiri, pertanyaan yang paling mendasar:

Apakah yang terbaik untuk saya?
Siapakah saya?

Bila memang kebetulan apa yang kita yakini sesuai dengan apa yang likngkungan kita yakini, well, consider kita lucky. Bayangkan bila kita mempunyai orientasi yang berbeda, kita harus berani melawan arus yang sudah terbentuk dari dulu.

Bila anda Gay, bila anda menyakini agama yang berbeda dengan keluarga anda, bila anda berbeda pemahaman 'politik dan moral dengan lingkungan anda, anda mungkin mengerti apa yang saya maksud kan. Tetapi ini bukanlah yang saya tuju dalam tulisan ini.

Dalam dunia desain/arsitektur, siapakah saya, justru sering terlupakan. Atau tidak berani kita explore. Karena berbeda dengan kebutuhan diri sendiri (sexual orientation, religion), menjadi seorang arsitek, pada akhirnya adalah, menjadi seorang konsultan untuk orang lain yang ingin memiliki bangunan/shelter.

Artinya, apa yang kita yakini, bila berlawanan dengan keyakinan masyarakat yang 'mengharapkan' jasa/fungsi kita, kita akan dihukum dengan tegas. Tidak ada proyek, atau Dinyatakan sebagai arsitek dengan karya yang buruk.

Namun, bila ditelaah lebih lanjut, setiap arsitek yang sukses, justru salah satunya disebabkan oleh kejujuran diri sendiri, apa yang ia yakini dan terus berjuang.

Yang terpenting adalah, luangkan waktu untuk memahami siapa kita, apa yang kita perjuangkan, dan berusaha jujur kepada diri kita sendiri.

Sunday, November 11, 2007

Client Relations: Helper..

Konsultan adalah orang yang memberikan 'jasa konsultansi', yang berarti adalah 'helper'.

Dalam segala kebingungan dan beratnya berhubungan dengan proyek, haruslah kita ingat dan menyadari dimana posisi kita berada. Betul, bila ada kalanya kita harus mempunyai 'harga diri' dan 'integritas', namun pada dasaarnya, dilihat dari aspek keseluruhan sebuah proyek, kita adalah 'helper' untuk klien kita dalam mewujudkan impiannya. Itulah sebabnya kita dipilih....

"saya perlu 'bantuan' orang yang dapat mewujudkan impian saya dalam sisi desain" = kitalah orang yang 'membantu' sang klien itu...

Saturday, November 10, 2007

Client : Whatever they think, it's what they think...

Kita harus tetap mengingatkan diri kita, bahwa kita adalah arsitek yang dipilih..

Artinya, klien lah yang memilih kita, dan mereka juga yang punya 'hak' untuk tidak memilih kita.

Hampir seperti kita, misalnya, membeli CD. Grup band yang kita pilih, karena kita mau memilihnya. Juga seperti CD (pada umumnya) kita tidak bisa mendengarkannya, kita bisa baca review albumnya, atau mendengar satu-dua hits nya, namun kita pada akhirnya harus mendengarkan seluruh album untuk memahami grup band tersebut, dan itu baru bisa kita alami setelah membeli satu CD dan mendengarkan, satu per satu.

Bisa jadi kita pada akhirnya menyukai grup/album tersebut...
Bisa jadi kita pada akhirnya memutuskan bahwa album tersebut tidak buat 'kuping' kita...
Bisa jadi, baru mendengar beberapa lagu, kita langsung 'tidak suka' dengan grup tersebut...

Apakah kita mau buang, mau simpan, mau memberikan album kepada teman yang kita rasa lebih cocok buat album itu (pastinya ini langkah jarang dilakukan) itu terserah kita.

Sekarang, taruhlah posisi kita seperti grup band tersebut.

Kadang, penolakan sang calon klien tersebut, hanya karena satu hal. Kita bukanlah 'untuk'nya...bukan berarti kita tidak bagus, tidak kompeten, tidak 'kompetitif'..

dan apa pun sudut pandang sang calon klien, adalah mutlak. namun janganlah lalu berpikir bahwa kita gagal, atau bila ada rasa percaya diri kita, bukan juga berarti sang klien lah yang 'salah'.

Anyway, kita toh bekerja untuk (proyek milik) klien bukan?

Friday, November 9, 2007

Proyek: Pengawasan

Terkadang kita diminta untuk menagawasi proyek tersebut, lalu apa yang dimaksud dengan pengawasan?

pastikan bahwa posisi kita adalah, mengawasi 'kualitas desain' dan membantu memberikan solusi desain yang dihadapi lapangan, bukanlah untuk: mengawasi kualitas kerja kontraktor, kerapihan, ketepatan waktu, dan pendanaan kontraktor.

Berilah batasan yang jelas, mengenai fungsi dan tugas pengawasan kita.

Klien : Untuk kita ini 'hanya' satu proyek, Untuk mereka 'ada segalanya'

Seringkali kita mendengar atau mengalami klien yang rewel, kadang kita dibuat tidak bisa tidur, dan ingin 'dilayani' setiap saat'; denah yang berubah terus dan maunya yang tidak realistis.

Saya akui juga mempunya kesulitan dalam menghadapi hal tersebut, namun disisi lain kita juga harus memahami...

...semurah-murahnya proyek arsitektur, sudah pasti sangat mahal. Apalagi untuk proyek yang 'pertama' atau 'utama'...

Rumah pertama, gedung pertama, salon pertama, cafe pertama...etc,

Buat mereka ini adalah bagian dari cita-citanya, mungkin seperti mengurus acara perkawinan, pasti rata-rata heboh, well, karena 'pertama' (seperti yang mungkin kita tahu perkawinan selanjutnya sederhana atau diam2).

Buat mereka proyek ini memakan dana yang tidak sedikit, dana yang ditabung bertahun-tahun, atau dalam bentuk hutang yang akan dilunasi bertahun-tahun kemudian.

Pahami ini, perlakukan dengan hati-hati dan bijaksana. Sementara untuk kita, akan selalu ada proyek lain...

Wednesday, November 7, 2007

Client: Hubungan dengan klien

Tugas kita sebagai arsitek adalah : menjadi partner sang klien.

Sebuah proyek dimailai dari 'ide' sang klien, mereka mempunyai tanah, lalu bercita-cita membangun rumah/gedung, dan mempunyai dana, setelah itu, 'pihak lain' yang di ajak pertama kali adalah = Arsitek.

Arsitek bukan hanya sebagai 'tukang gambar' kerap pekerjaan kita lebih dari itu, kita adalah orang kepercayaan sang klien, judgement kita sangat penting, input kita - setuju atau tidak setuju oleh klien - akan selalu menjadi pertimbangan mereka. Untuk kita yang berada di awal proyek, terkadang kita juga mempunyai input dalam rencana bisnis mereka, somehow, kita memang dilatih untuk berpikir secara sistematik, dan analisa kita, walau bukan businessman, kadang lebih tajam atau mampu mengamati detail yang sering terlewatkan oleh sang klien.

"arsitek adalah dukun klien" ada teman saya yang berkata seperti itu, lambat laun hubungan kita pasti akan dekat dengan klien. Jagalah hubungan itu sebaik-baiknya, ingat, masa sebuah proyek bisa sampai bertahun-tahun kedepan.

Jadilah sosok manusia yang jujur dan reliable, itu jauh lebih penting dari desain yang spektakular....

Tuesday, November 6, 2007

Design : Bedakan antara Selera dan Kualitas Desain

Mungkin analogi yang baik adalah style musik; ada pop, jazz, rock, metal, dangdut, klasik, country dsb.

Semua orang memiliki 'selera' sendiri;
yang suka Jazz mungkin tidak suka Metal
yang suka Dangdut mungkin tidak suka Klasik
..dan seterusnya.

Kita jangan terjebak dalam 'style oriented' ini, kita harus bisa membedakan mana selera akan style, mana selera akan kualitas style itu sendiri.

Dalam Grammy, segala style musik diberikan atas "kualitas" dalam setiap style;
HipHop Terbaik
Jazz Terbaik
Klasik Terbaik
....

Fokus akan kualitas, bukan stylenya. Kita bisa mengusung style yang mewakili kita, namun kita harus fokus kepada kualitas style yang kita usung tersebut. Desain yang baik adalah "desain yang baik", tidak perduli apa style yang diusung.

Minimalism, ada yang jelek dan ada yang bagus
Klasik, ada yang jelek dan ada yang bagus
Futuristik, ada yang jelek dan ada yang bagus
Tropikal, ada yang jelek dan ada yang bagus

Penggemar arsitktur klasikal sama fanatiknya dengan penggemar arsitektur modern, dan masing-masing (harap dimaklumi) "saling membenci". Tinggal kita yang membantu mewujudkan desain yang baik dari setiap style yang diinginkan oleh klien, atau style yang kita usung...

Kita mendesain untuk klien, bukan untuk kita sendiri...

Ini adalah kenyataan 'pahit' yang harus kita sadari...berbeda dengan apa yang kita bayangkan sewaktu dibangku kuliah, maupun apa yang kita harapkan dari para 'arsitek selebritis' kelas dunia...

Pada dasarnya kita harus sadar bahwa tugas kita adalah:

Membantu membuatkan gambar untuk sang klien.

Klien lah:
Yang mempunyai proyek
Yang memiliki dana tersebut
Yang akan menggunakan proyek tersebut

Kita hanyalah berada di posisi yang 'membantu' yang 'meng-guide' rencana tersebut menjadi kenyataan, tidak lebih dari itu.

Argumentasinya adalah, kita sebagai arsitek, harus memiliki, say, ciri khas tersendiri, atau mempunyai filosofi desain sendiri. Hal ini tentu ada benarnya, namun, independensi sebagai arsiktek adalah 'given' oleh sang klien, bukan kita lah yang menentukannya. Beberapa dari klien (if you can get it, that's awesome!) memberikan keputusan sepenuhnya kepada kita, tentu selama dalam koridor dana dan waktu, bila itu yang terjadi dalam proyek kita, that's a good thing.

Intinya, jadilah arsitek yang bertanggung jawab, kepada sang pemilik proyek...

Monday, November 5, 2007

Arsitek = Karir jangka panjang

Hal ini yang mungkin kurang kita sadari...

Kenapa harus jangka panjang atau istilah lainnya = lama sekali meraih sukses?

Hair Dresser = hanya butuh waktu 1-2 jam untuk memberikan hasil kerjanya...
Fashion Designer = butuh waktu 1-2 minggu untuk menghasilkan baju yang indah...
Graphic Designer = butuh waktu 1-4 minggu untuk menghasilkan layout yang bagus...
Interior Designer = butuh waktu 2-3 bulan untuk menghasilkan interior yang baik...
Arsitektur = untuk rumah paling cepat 12 bulan...sampai, well ada proyek saya yang masih dikerjakan 10 tahun ini...

Jadi dalam 1 tahun..berarti =
Hair Dresser = 500-1000 klien!
Fashion = 50-100 klien
Graphics = 30-50 klien
Interior = 5-10 klien
Arsitek = 1-5 klien

Think about it...

2 tipe arsitek sukses

Pertama..

Tipe arsitek yang berhasil dengan karya yang luar biasa, seperti seniman...tidak semua orang di 'takdir'kan menjadi orang yang sukses dalam karya2nya..bukan kita bisa menentukan menjadi arsitek sukses dengan karya2nya...it's just happened.

Kedua...

Tipe arsitek yang di sukai justru karena personality nya, cara kita berbicara, cara kita memahami inti sebuah proyek, cara kita berhubungan 'antar manusia', antara kita dan klien kita. Hal yang terakhir ini, tentu dapat kita lakukan sekarang juga...

Tentang Fengshui...

Terkadang kita bertemu dengan klien yang meminta denah didesain dengan Fengshui/Hongshui. Terkadang ini bukan masalah percaya atau tidak percaya, namun 'invicible rules' di dalam dunia seni 'memang ada', geomancy memang tumbuh secara alamiah dari jaman dahulu, mungkin pada dasarnya kita sebagai arsitek memang perlu 'guidance'. Why? agar kita mempunyai satu titik yang dapat menjadi ukuran kita semua.

Golden (aduh kok gue lupa...) juga adalah aturan yang 'setara' dengan Fengshui, gak ada logicnya..tapi kita tahu itu ada gunanya..

Yang terpenting, jangan jadikan Fengshui itu musuh, pelajari dengan baik2, nantinyat kita akan tahu manfaatnya...